Wednesday, 26 June 2013

tiada yang lebih pemurah

kabur, samar dan kelabu. mungkin itu sedikit ungkapan saya tentang cuaca yang kurang baik di Malaysia sejak belakangan ini. Namun, di sebalik ujian yang Allah hadirkan buat kita ini, terlalu banyak yang boleh kita pelajari dan muhasabahkan terutamanya diri sendiri. Jujur saat ini saya diuji dengan masa lapang, sehingga saya seolah merasakan sangat 'loser' jika gagal menjadi produktif untuk mengisi hari-hari di rumah ini dengan baik. Mujur ada adik tersayang menemani kerana menghabiskan cuti study week di rumah, hadirlah beberapa peluang untuk saya berkongsi tentang kehidupan, refleksi dan mencari inspirasi. Kita, manusia, terkadang tidak dapat melepaskan diri dari cengkaman sunyi saat sendiri, dan yang lebih bahayanya adalah syaitan itu teramat suka membisik dan menggoda untuk merobekkan iman kita saat sendirian. Dan benarlah kata-kata ini, serigala hanya berani menerkam sang kambing saat ia sendirian.

namun itu bukanlah alasan untuk kita menyalahkan keadaan dan berputus asa. sudah tentu tidak. walaupun dalam keadaan tanah air yang sangat menuntut kesabaran diri untuk mengadaptasi dengan cuaca baru ini, saya cuba untuk memujuk diri menjadi positif. saat diri terkadang berusaha teramat mencari cara selesa untuk menghirup nyamannya udara yang segar, namun haba yang terkadang hangat membaluti tubuh ini, membuat saya refleksi, ah, neraka nanti lebih panas. sudah cukupkah aku berusaha menjauhkan diri darinya, sedangkan hangatnya bumi ini terkadang tiada tertahan lagi. bersyukurlah, bersyukurlah masih diberi peluang untuk berusaha menjauhkan diri dari azab-Nya di akhirat kelak. usaha, tidak sepatutnya terhenti sampai mati.

manusia itu mudah alpa. dan saat kita diuji, kita juga terkadang alpa, merasa diri seolah mampu dan terlupa akan Tuhan yang berkuasa atas segala. Tuhan itu sentiasa melihat dan memerhati tingkah laku kita, tidak pernah leka walau sesaat pun. dan manusia ini sifantya kikir, terkadang terlalu berkira-kira dalam menyumbangkan masanya untuk Tuhan, sibuk dan sibuk teramat dengan urusan dunia. tidak salah mengejar dunia, tetapi jangan biarkan ia menggenggam hati kita, hinggakan masa, tenaga dan harta yang Allah kurnia, kita terlupa akan hak untuk menyumbang kepada islam, kepada kebaikan. sedangkan Allah itu sangat pemurah, Maha Pemurah bagi semua hamba-hamba-Nya.

dunia itu seharusnya jadi ibarat bola sepak, dikejar untuk disepak ke gol (matlamat) dan bola hanya sekadar alat untuk mengejar matlamat. bola itu bukan matlamat, saat kita cuba mengejar matlamat, kita harus mematuhi undang- undang bola sepak (peraturan islam) dan berusaha dengan sepenuh hati untuk mengejar matlamat yang cemerlang di akhirat (gol). Bola (dunia) itu bukan untuk disimpan untuk jadi milik kita selamanya.

dalam surah Az- Zumar ayat 32-35; Allah berfirman "dan orang yang membawa kebenaran dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhannya, demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik, agar Allah menghapus perbuatan mereka yang paling buruk, yang pernah mereka lakukan dan memberi pahala kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan"

Betapa bertuahnya kita, jika benar menjadi hamba yang membawa kebenaran Islam dan membenarkannya, kerana Allah menjanjikan balasan yang bukan sedikit, tetapi lebih dari apa yang dapat kita bayangkan. dosa diampuni, malah pahala berganda, diberi apa saja yang diminta, dan  untuk setiap kebaikan yang dibuat dengan niat yang betul. bayangkan jika telah berbuat kesalahan yang terbesar kepada manusia, sudah tentu sukar teramat buat mereka untuk mengampuni kita, apatah lagi memberi anugerah dan hadiah yang kita ingini kemudiannya. subhanallah. Allah itu sebaik- baik pemberi, tiada apa yang dapat menandingi kurnia-Nya.

Allah memperingatkan lagi kita tentang sifat Maha Pemurah-Nya dalam ayat seterusnya surah az-zumar ayat 53, "katakanlah bahawa hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah mereka berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Allah Dialah Maha Pengampun, Maha Penyayang"

nah, tiada alasan lagi buat kita untuk tidak bermujahadah melawan hawa nafsu dan mencuba sehabis daya mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya. sungguh, janji Allah itu benar dan pasti. syurga atau neraka itu pengakhiran abadi. pilihan dan usaha di tangan kita saat diri masih dipanjangkan usia dan dikurnia rezeki.

yakinlah, wahai diri dan semua, yakinlah. tiada yang lebih pemurah selain Dia.



Sunday, 16 June 2013

home again, dearest

As salam wbt dear friends and fellow readers. By the time you are reading this, I am already back in this beloved country, warmth and where the sun loves to shine, Malaysia. I was in an 11 hours flight with a friend, waiting impatiently for the flight to end safely. Then the Malaysia Airlines crew announced that the weather and local temperature is around 27 degree celcius. Wow! such a big difference to where I came from, it was winter with below 10 degree celcius temperature and suddenly I am in this summer like weather. Honestly I was afraid of having a weather shock, because previously I was back for two times, and both times I had a long fever, due to weather shock. But yeah, alhamdulillah, I am all safe and sound at home, in  beloved hometown, Ipoh today. Alhamdulillah, alhamdulillah.

And of course, I am trying to fit myself into this new environment, new people and new atmosphere. It is not like I am trying to deny the fact that Malaysia is changed, but the truth is within this three years and a half, we could not expect people to be the same. We are changed. Yes, we do. In our own ways. I try not to compare what some people used to be, and how they have changed now. Because personally I expect myself to be able to adapt with this challenge, to start from zero. To get to know the places I used to be, to carry all the memory and good experiences in NZ, to bring it all here and to compile it to become a much more better person, with a much better attitude and heart, inshaAllah. To start knowing everything around me now, with a much better judgement, an open mind and a humble heart. Yes, three years and a half in New Zealand, I wished for nothing less, but to be a person who is humble but firm with her own life principle according to what Allah wants me to be, to carry the abid and khalifah duty, always and always.

Another thing that made me reflect is that I could not be sad to leave NZ, neither I should be happy to be in Malaysia. Because everything is in perfect balance, the joy and the frustration should made me calm, to be able to face this neutrally. And why should I ever feel sad? Allah is everywhere, He is indeed very near to me, much more nearer than vein in our neck. No matter where I'd be after this, Allah will look after me, He knows what is best for me.  and for now, is the best time to be home again..To always remind myself, that what Allah has planned for me, is indeed better than whatever I could wish for, whatever I would dream of.
Al Baqarah : 216, is a meaningful verse talking about the destiny that sometimes we might ponder what the hidden benefits are. we, as Allah's servants knows nothing, but He's the one who knows and the all-knowing. So, in this current time, it is important to be grateful, to feel blessed to be given another chance and be someone better in your own birth place. InshaAllah.

And to appreciate those we were supporting me in NZ, and those who are here with me in Malaysia, only Allah could repay all your kindness and good deeds. May Allah bless each of you who has never stop giving up on me, always keeping me in your prayers and hopes, you are all the best gifts in my life. May Allah grant us the best return, in whichever ways He desires, may Allah grant us His blessings both in this world and in the hereafter. To all my sisters, and family in NZ, Allah is indeed with us, always and we are all still together in this path, for His blessing inshaAllah, may we meet again in Jannah. Amin ya rabb.

and I do not what to say more, but to wish and pray for all of you, may Allah bless each and everyone of us. no matter where life and destiny is taking us after this, always believe that there is a huge lesson that Allah wants us to learn from, each moment, each person, and each second. and may all these gifts and tests that Allah has given us, make us a better person each day. InshaAllah.


salam from uniquely Malaysia,
farah fareen

Friday, 26 April 2013

raise your hand

salam buat rakan pembaca blog ini. maafkan saya kerana begitu lama telah mengabaikan ruang penulisan ini, salah sendiri mungkin masih belum efektif dalam pengurusan masa, atau mungkin kerana dek terlalu banyak tuntutan tugasan yang menanti sejak beberapa minggu yang lalu. Apa pun sebabnya, saya tidak mahu menjadikan itu alasan untuk saya berhenti menulis dan melukis ekspresi diri melalui ruang penulisan yang tidak seberapa ini. kerana di ruangan yang kecil inilah saya belajar erti refleksi; mungkin secara terperinci disebabkan diri ini memang seorang yang sangat kritikal orangnya. jadi, maafkan saya sekali lagi andai ada terdapat nukilan nukilan saya yang anda dapati agak asing; kerana pemikiran saya yang mungkin agak rumit terkadang untuk anda fahami.

sebenarnya saya sudah punya beberapa tajuk sejak beberapa minggu ini, tetapi malangnya tidak punya waktu untuk mengarangnya dengan baik. maka di kesempatan ini, saya ingin berkisah tentang perihal ujian. ya, ujian yang semua insan hadapi, tidak kiralah bangsa, agama atau lain-lain; secara fitrahnya Allah benar akan menguji kita, di setiap tangga dan peringkat kehidupan. mahu ataupun tidak, suka ataupun benci.

maaf saya bukan bermaksud untuk membuat anda memandang ujian sebagai suatu perkara yang negatif, malahan sebaliknya. ujian dan nikmat itu bersilih ganti, namun berapa kali saat kita ditimpa ujian, kita benar- benar mampu menghadapinya dengan baik dan hati yang redha. saya juga mengaku bahawa diri ini kerap kali menghadapi cubaan dan dugaan, dan saya bukanlah orang yang sempurna untuk bercerita kepada anda tentangnya, tetapi pengalaman dan kisah rakan seperjuangan di sini telah banyak mematangkan saya dalam menilai cara menghadapi ujian, membantu mereka yang kesusahan dan juga berusaha memahami keadaan untuk mencari penyelesaian.

ujian? bermakna anda perlu meletakkan diri dalam posisi seorang yang sedang mengambil ujian atau peperiksaan. kondisinya sama. mengapa? saya hampir pasti bahawa kebanyakan dari kita pernah menduduki apa jua ujian, walau sekali dalam seumur hidup. dan apatah lagi dengan situasi sistem pendidikan di Malaysia, sangat menuntut kita untuk cemerlang dalam setiap ujian ini. namakan semua, upsr, pmr, spm, stpm dan banyak lagi. nah, apa yang terjadi saat kita berada dalam dewan peperiksaan? selain hati yang berdegup laju kerana resah memikirkan jawapan yang bakal dilontarkan dalam ujian tersebut.

kemudian, guru atau ketua pemeriksa akan meminta kita untuk menjawab soalan yang diberi, dan ada kala kita terpaksa membuat pilihan di antara beberapa pilihan jawapan yang diberikan. contohnya, soalan MCQ, yang punya empat pilihan jawapan, A,B,C atau D. dan mahu atau tidak mahu, keliru atau tidak keliru, akhirnya kita hanya dibenarkan untuk menghitamkan satu sahaja ruang jawapan, atau jika tidak, markah kita tidak dikira. dan kita langsung tidak dibenarkan mengangkat tangan untuk bertanyakan manakah jawapan yang betul. kerana itu melanggar peraturan ujian tersebut.

makanya, keadaan yang hampir sama berlaku saat Allah menghadirkan ujian buat kita dalam liku kehidupan ini. tetapi terdapat satu perbezaan besar. saat Allah memberi ujian, kita terkadang memilih untuk mencari sahabat, atau keluarga untuk mengadu tentang perihal masalah yang dihadapi. sedangkan pilihan jawapan yang telah dibentangkan buat kita bagi jawapan tersebut adalah satu; bukan empat. dan jawapan itu adalah pasti jawapan yang betul. jawapan itu ialah Allah, ya Allah mahu kita memilih Dia sebagai tempat yang pertama-tama untuk kita bergantung saat diberi ujian. Allah mahu kita mengadu pada-Nya, berdoa dan memohon diberi kemudahan dan katabahan untuk menghadapi ujian tersebut. kerana Allah yang lebih tahu, Dia yang berkuasa menghadirkan ujian itu buat kita, bukan manusia atau makhluk lainnya.

dan saat ujian menimpa juga, Allah mahu kita menadah tangan, mengangkat tangan meminta, bertanya, berdoa dan mengadu pada-Nya, kerana hanya Allah yang punya jawapan. dan kita tidak perlu risau akan apa-apa balasan jika tempat pergantungan yang pertama kita adalah Allah swt semata-mata. ini tidak melanggar peraturan ujian. maka sahabat, ayuh kita renungkan kembali perjalanan dan liku hidup ini, berapa banyak usaha yang telah dilakukan untuk menghadapi ujian dengan cara yang terbaik.


namun kita sebagai manusia acap kali terlupa dan terleka bahawa kehadiran ujian itu sebenarnya adalah untuk mengingatkan kembali diri kita, bahawa hanya Allah satu-satunya tempat pergantungan, tempat meletakkan harapan, dan satu-satunya kuasa yang mampu mengubah kondisi kita pada saat itu. Allah sahaja yang mampu membolak-balikkan hati kita; sama ada tenang mahupun resah atau tertekan untuk menghadapi ujian tersebut. Lantas Allah berfirman dalam sebuah surah tentang peringatan untuk terus mengingati-Nya saat ujian datang menerpa;

"(iaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah (malapetaka), mereka berkata: 
inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
 (bahawa sesungguhnya kita kepunyaan Allah dan kita akan kembali kepadaNya)"

Al-Baqarah :56


bukankah Allah yang telah mencipta kita, dari setetes air mani dan kemudian berkembang biak menjadi keturunan manusia seluruhnya? bukankah alam semesta ini milik-Nya yang penuh hiknah dan rahsia penciptaan? bukankah suatu hari nanti ajal bakal menjemput kita untuk kembali kepada-Nya? mengapa kita masih diulit rasa ragu untuk meminta pada-Nya; percayalah ragu dan was-was itu sebenarnya adalah bisikan syaitan yang cuba memesongkan kebergantungan kita dari Allah; kepada selain-Nya. Nauzubillah.

tidak salah bergantung kepada manusia lainnya, tetapi berimanlah bahawa mereka hanyalah medium yang Allah izinkan dan hantarkan untuk membantu kita, hanya jika kita pertama-tama berserah diri kepada-Nya saat ujian tiba. Manusia, harta benda, ubat dan sebagainya cumalah ikhtiar kita untuk menyelesaikan sesuatu masalah, namun semua itu berlaku atas izin Allah juga. Allah adalah matlamat, sedangkan medium lain cumalah sebagai alat untuk mencapai matlamat.

dan di situlah letaknya tawakal. tawakal di sepanjang usaha kita untuk mencari keredhaan Allah dalam setiap nikmat mahupun ujian yang menimpa. tawakal bahawa kita sudah mengusahakan yang terbaik, berdoa, dan maka tawakal itu tandanya kita menyerahkan segala hasilnya pada Allah, dan agar Allah meredhakan hati kita dengan apa jua keputusan dan ketentuan yang hadir setelah itu.

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Surah Al-Anfal : 61

"Dan hanya kepada Allahlah, hendaknya orang-orang mu’min bertawakal."
Surah Al-i-Imran : 122

ayuh, kita kembalikan semua usaha, doa dan tawakal kita kepada pemilik jiwa, Allah swt. Moga Dia memberkati tiap langkah kita dan mengikhlaskan hati-hati kita dalam mengharungi perjalanan yang berliku ini. Sungguh syurga itu mahal, dan cuma mereka yang benar-benar menginginkannya, bakal memberikan yang terbaik untuk menjadi penghuninya. InshaAllah.

~kurang 50 hari di bumi kiwi, sungguh hati ini sudah tertaut dengan tarbiyyah Allah di sini. moga diri ini mampu terus istiqamah di tanah air nanti. Amin ya Rabb. doakan saya. 

Jazakallahukhairan kathira. Assalamualaikum.


Saturday, 16 March 2013

am a painter on the edge

as salam and hi again to all fellow readers. am sorry for abandoning this little room of my writings for quite a while, but it seems that I am running out of ideas; most probably because there's too much things happening quite recently; which kinda related to my future plannings bla...bla...and yeah, at the end of the day, I did feel quite fragile in pursuing my dreams; will I gonna be able to turn it to reality? Only Allah knows. and the metaphor is; am a painter on the edge, that I have so many things to design and paint my dreams, but I felt so fragile and insecure of painting them while standing on the edge of a cliff.



But the truth is; no matter what life throws at me; it made me realized that we are servant, created to depend on our Master, Allah swt and therefore, it is ok to feel weak at times, it is ok to feel helpless, but just remember each time this feelings came to you; that you have Allah to depend on, to put your hopes to. to hold onto. and most importantly, Allah swt is the Only One who could make your wishes come true.

But indeed, indeed we have so many wishes in this life. this and that; all that we could ever ask for. but be careful of what you wish for, because it's going to determine what we are going to make out of it. it is not wrong to wish for a sport car, for example, but do ponder, and think; what are the benefits of having a sport car to myself? my attitude? my hereafter? will my attitude change because of having such a luxurious car envied by everyone, will I feel so ego that I forgot my effort for hereafter? what would such wish done to us?

this is where the power of wisdom lies.

what we wish for in this life, Allah swt will give it to us, according what He thinks is best for us; not what we think is best for ourselves. Perhaps having a big house, will not do good to our attitude; and thus, we have a medium but a comfy house. Perhaps, just perhaps, becoming doctor will be a burden that we could not fulfill, thus we become a teacher who could educate the young generations. the power of wisdom is crucially important so that we could evaluate what are things that we really need and choices we have, and to always ponder what benefits will it bring to us? are we being so greedy that we want to have it all? or one after another. 

“Earth provides enough to satisfy every man's needs, but not every man's greed.” 
― Mahatma Gandhi

"Have you seen the one whose god is his own ego? Will you be his advocate?"
Al Furqan : 43
mankind by nature has ego; and arrogant at times. and this ego could destroy us. Allah gives us what we really need, cause Allah is the all knowing; and by doing that He prevented us from destroying ourselves with this ego. for those who are too greedy, ungrateful for what they already have; in other words, will only trying to destroy themselves. Those who are greedy of this world, could not run from what Allah has decided for them. Na'uzubillah.

“And thou wilt find them greediest of mankind for life and (greedier) than the idolaters. (Each) one of them would like to be allowed to live for a thousand years. And to live (a thousand years) would by no means remove him from the doom. Allah is Seer of what they do.”
Al Baqarah : 96

Have you heard of the story of the three loaves of bread by Yusuf Estes? The man who lied so that he could have all the fortune, what happened to him at the end of the day?



Therefore, as human, as Allah's servants, I am reminding myself and others inshaAllah, to be grateful, and to always be hopeful, as long as we follow the path that Allah has chosen for us; which is to follow the Quran and Sunnah; always bear in mind that Allah's help is near. 


"We created man, We know the prompting of his soul, and We are closer to him than his jugular vein."
Al- Qaf :16

and to remind ourselves, Allah sends us storms and winds, so that we could bent our knees, which is perfect position to pray. Beautiful words from Yasmin Mogahed.

it reminds me to these two powerful zikr that the Prophet's companions always repeat at difficult times; 

"la haw la wala quwwata illa billah- there's no power nor might by/ with Allah."

"hasbunallahi wani'mal wakeel - indeed Allah alone is sufficient for us"

last week a miracle happened to my sister; she is diagnosed to be healthy and despite the fact she had the wrong medicine for years, Allah saved her from what we think could affect her liver and kidneys badly. Alhamdulillah, alhamdulillah. the power of pray and tawakal is so important; that we should surrender and submit our lives to Allah, He is our only hope. and to always have good thoughts about what Allah decided for us. don't ever estimate the power of being optimistic; as Muslims, we should always be  an optimist, because we have Allah, the Creator, the Almighty. and soon, the truth shall prevail. 

Kun fayakun. and from Him we came, to Him we shall return.

less than 100 days here,
farahfareen



Monday, 18 February 2013

mengukir pelangi

musim panas yang bakal tiba ke penghujung, persis sekali cuaca di tanah air. bumi yang menjadi ibu kota kebanggaan rakyat kiwi ini jarang sekali hilang sentuhan bayunya, bayu yang terkadang membuat diri sukar menghadirkan langkah seperti biasa. syukur atas segala nikmat dan kurniaan Tuhan, apa jua kehendak-Nya, lantas itulah yang terbaik buat kita, atas sebab dan semua dengan izin-Nya. inshaAllah.

dan diri ini akhirnya kaku lagi pada kata-kata. ya, lidah manusia ini kadang tidak mengenal mangsa, dan acap kalinya juga bisa mengukir bahagia. kata-kata yang kita hadirkan buat mereka, terkadang meluncur laju, lebih laju dari kelajuan cahaya, namun di saat kata-kata itu dibunyikan dan didengarkan mereka, hati membisik kesal. salahkah? apa silapnya? dan mengapa maksud yang dicari itu masih tidak hadir, sebaliknya mengundang respon berbisa. sayang sekali, kata-kata itu telah melontarkan prasangka, sedangkan tujuannya membungakan bahagia.

dan aku memperingat diri sendiri. betapa kata-kata ada banyaknya tidak perlu diungkap, cukup dengan sekadar diam, mengukir senyuman atau sekadar singgah di fikiran. tidak perlu terlalu diamati dan diukir dalam hati, apatah lagi kata-kata berbisa, atau kata yang tidak membawa makna. bukankah kesabaran itu tinggi dan teramat bertuah bagi mereka yang memilikinya? bukankah kita telah diperingatkan dengan kata-kata dari kitab indah dalam sebuah surah;

Dan hamba-hamba al-Rahman (Yang Maha Mengasihani) itu (ialah) orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang jahil menegur mereka, maka mereka mengucapkan kata-kata “salam” Al Furqan : 63.

rendah hati. itulah sifat manusia yang sentiasa punya kesabaran dalam jiwa, saat manusia lain mengukir kata luka atau dusta, dia tidak merasa besar, bangga diri atau jauh lebih baik, sebaliknya mendoakan sang pembicara selamat sejahtera, salam, agar dia tidak dibalas dengan kata yang lebih menyakitkan. sungguh, keimanan ini yang kita cita- citakan, dan impikan agar satu hari mampu membuahkan cinta kepada saudara seagama, menerima kelemahan mereka, bersabar dan juga akhirnya, membimbing mereka kembali ke pangkal jalan, dengan penuh ketenangan untuk mencari keredhaan Tuhan.

dakwah itu bermula dengan kata-kata, dibuktikan dengan amal, dengan niat yang suci dari sekeping hati. dakwah itu cinta," ibarat pohon yang sentiasa memberikan buah, walau dilontar dengan batu oleh mereka yang tidak memahami." kata indah, inspirasi buat diri, dari imam hasan al bana, pendukung dakwah yang memaknai cinta kerana Allah dalam hidupnya.

kebaikan itu tidak asing dengan kita, bukanlah terlalu jauh untuk menggapainya. kerana fitrah kita, sebagai manusia, makhluk Allah, akan sentiasa sukakan kebaikan. usahalah diri, perbaiki amal pancainderamu, lidah dan semuanya; agar kelak bahagia di akhirat sana. inshaAllah.

dakwah bermula dengan diri sendiri, dan kemudian ia tersebar kerana cinta, kerana cinta kepada Allah, Maha Pencipta.

"dakwah padaku ibarat pelangi, yang dikau ukirkan buat mereka agar sama-sama menikmati keindahannya; sehingga mereka juga mampu mengukir pelangi yang sama, buat yang lainnya"

Sunday, 17 February 2013

a journey of love - sarah's visit 20012013-31012013

snippets of our jouney.
auckland- rongitoto island- queenstown- milford sound- glenorchy- arrowtown- west coast- fox glacier- arthur's pass- christchurch- wellington.





































Tuesday, 5 February 2013

Are we in paradise yet?

As salam dear readers, it's been a while i know, but yeah hopefully this little sharing today could give us some benefits and something to ponder upon and most importantly taking actions. And i am just going to copy a snippet of page from my book named reclaim your heart, by Yasmin Mogahed. Well, i must admit that she really inspired me in looking at this life from a different and a much better perspective in becoming a better muslim inshaAllah.

"Imagine only having good in your life. That is the state of this type of believer, as the Prophet pbuh says: "wondrous are the believer's affairs, for him there is good in all his affairs, and this is so only for the believer. When something pleasing happens to him he is grateful, and that is good for him; and when something displeasing happens to him, he is enduring (sabr), and that is good for him." (Narrated by muslim)

"And so in the heart of such a believer is a such of paradise. That is the paradise that Ibn Taimiyyah, may Allah have mercy on his soul, spoke of when he said, "truly there is heaven in this world (and) whoever does not enter it, will not enter the heaven of the next world"

And in that heaven, complete peace is not something of a moment. It is a state, eternal"
Page 36 & 37 (chapter; peace on a rooftop, from reclaim your heart, yasmin mogahed)

And so we wonder, the type of believer whose hearts are like paradise, calm and at peace in no matter what conditions apply to him, how the surrounding could pressure him, he will always be in peace, accepting and sabr. We ponder to ourselves, are we included in such type of believer? Are we good enough? But of course, it is the struggle that we face in this life to become such believer. It is with these everything that we are in, we have and dont have now, we should try and always try to be such believer. InshaAllah.

And to always remind ourselves, that life in this world could be deceiving sometimes when we lose focus. When we suddenly put our attention or attachment other than Allah, to people, to things, to money and everything else. That is our mistake. Knowing that shaytan will never give up to make us forget this fact. The fact that everything belongs to Allah, it is Allah we should depends on, and no others. No one but Him.

The second reality, we look deep into our hearts. Try to look inside, what is it occupying our hearts? Is is the love of this dunya? A love to a person or things or status? Is occupied by our dreams and ambitions? Is that only? How much of our hearts is occupied by love to Allah and Rasul? Our deen? This is a scaring reality, even for me myself, i dare not to say, my heart is pure from all the desires or nafs, but still, i am sure that in each of our hearts that there is love to Allah, but the question is, whether that heart is continuously poured by our love to Him only, which only then, our heart could be like a paradise as what Ibn Taimiyyah has mentioned. Your heart is a paradise, when it could love everything that Allah loves, and leave everything that Allah forbids, enduring in patience and acceptance. Just like the heart of the Prophet pbuh, and his companions.

MasyaAllah, how beautiful is that? Indeed the paradise in this world is not far, it is in ourselves, our souls, our hearts. We should try to build it by ourselves, with our iman, our faith, our deeds, and our deen. It isn't that far, isn't it? InshaAllah, once the paradise in ourselves are built, we would feel like home, near to our home in the hereafter, the paradise itself, jannah. Didn't our father, adam a.s. originated from the heaven?

It is possible inshaAllah, by continously reminding each other, our friends, our siblings, our families and everyone that Allah's promise will come true, to those who believe in Him.

Therefore, a question that we need to answer and remind ourselves in order to improve is probably, are we in paradise yet?